Situs Piala Dunia – Piala dunia memang membawa euforia besar, apalagi dengan kehadiran bintang seperti Kylian Mbappé, Lamine Yamal, Erling Haaland, Lionel Messi, dan Cristiano Ronaldo yang telah mengamankan tiket ke turnamen prestisius itu. Namun, di balik sorotan terhadap para pemain yang berhasil lolos, terdapat kisah lain yang tak kalah dramatis—kisah mereka yang gagal melangkah ke Piala Dunia meski punya status bintang global.
Format baru Piala Dunia 2026 yang melibatkan 48 tim memang membuka peluang lebih besar. Namun perubahan ini tetap tidak menjamin semua negara dapat melaju mulus. Beberapa tim kuat justru terhambat konsistensi, masalah internal, hingga cedera pemain kunci. Hasilnya, sejumlah pemain top harus melepaskan impian tampil di panggung terbesar sepak bola dunia.
Berikut adalah daftar lengkap 10 pemain dunia yang dipastikan absen di Piala Dunia 2026, disertai analisis mendalam mengenai perjalanan mereka dalam kualifikasi.
1. Jan Oblak (Slovenia): Kiper Elite yang Kehilangan Panggung Terbesar
Jan Oblak tetap menunjukkan kualitas sebagai salah satu kiper terbaik Eropa meskipun sorotannya tidak sekuat beberapa tahun lalu. Ia memimpin Slovenia dengan ketenangan luar biasa, refleks tajam, dan pengalaman yang matang. Oblak tampil stabil dalam sebagian besar pertandingan kualifikasi, tetapi Slovenia gagal bersaing dengan Swiss dan Kosovo yang tampil konsisten sejak awal.
Slovenia mengakhiri fase grup di posisi ketiga, hasil yang membuat peluang mereka tertutup. Oblak kini berusia 32 tahun, dan meski ia mungkin masih memiliki satu siklus lagi, perjalanan menuju Piala Dunia berikutnya akan semakin berat karena regenerasi tim nasional Slovenia belum menunjukkan tanda-tanda signifikan.
Tambahan paragraf relevan:
Kegagalan Slovenia menembus Piala Dunia menambah daftar panjang negara kecil Eropa yang kesulitan bersaing di zona UEFA. Tanpa pemain-pemain top di lini depan, performa Oblak tidak cukup untuk mengangkat tim secara keseluruhan. Tekanan yang besar pada dirinya juga membuat kesalahan kecil berdampak besar pada hasil akhir, memperlihatkan bahwa sepak bola modern membutuhkan keseimbangan di semua lini.
2. Jon Aramburu (Venezuela): Bek Masa Depan yang Belum Waktunya Bersinar
Jon Aramburu mencuri perhatian di Real Sociedad karena tampil matang, agresif, dan konsisten. Ia juga sering dikaitkan dengan klub-klub besar seperti Manchester United. Namun penampilannya yang menjanjikan tidak mampu membantu Venezuela mengubah sejarah.
Meski format kualifikasi CONMEBOL kini memberikan lebih banyak tiket, Venezuela tetap kesulitan bersaing dengan negara-negara besar seperti Brasil, Argentina, Uruguay, dan Kolombia. Aramburu menjadi satu-satunya pemain Amerika Selatan di daftar ini, menunjukkan betapa sulitnya kompetisi di kawasan tersebut.
Tambahan paragraf relevan:
Venezuela sebenarnya mengalami perkembangan dalam beberapa tahun terakhir, terutama sejak berinvestasi dalam pembinaan pemain muda. Namun kualitas keseluruhan masih belum cukup untuk bersaing dalam fase-fase krusial. Aramburu masih memiliki banyak waktu untuk berkembang, dan peluang tampil di Piala Dunia mendatang tetap terbuka jika Venezuela mencapai stabilitas permainan.
3. Nikola Milenkovic (Serbia): Bek Kuat yang Tidak Dapat Menghindari Kritik
Serbia tampil buruk sepanjang kualifikasi, dan Nikola Milenkovic menjadi salah satu pemain yang disorot. Ia menerima kartu merah ketika menghadapi Inggris, membuatnya absen dalam pertandingan krusial melawan Albania. Serbia kemudian finis di belakang Albania—hasil yang memicu kekecewaan besar dari publik.
Milenkovic sebenarnya memiliki reputasi sebagai bek tangguh yang sangat diandalkan. Namun beberapa keputusan buruk selama pertandingan membuatnya menjadi sasaran kritik, meski penampilannya tidak sepenuhnya buruk.
Tambahan paragraf relevan:
Kegagalan Serbia menunjukkan bahwa kualitas individu tidak selalu cukup untuk mengangkat performa tim. Milenkovic sendiri sebenarnya memainkan beberapa pertandingan dengan solid, tetapi masalah koordinasi antarlini membuat pertahanan Serbia mudah ditembus. Situasi ini mempertegas perlunya manajemen tim nasional Serbia melakukan evaluasi besar-besaran jelang turnamen berikutnya.
4. Milos Kerkez (Hungaria): Harapan Baru yang Harus Bersabar
Milos Kerkez menunjukkan perkembangan pesat sejak bermain untuk Bournemouth. Ia tampil agresif, cepat, dan punya kemampuan ofensif yang baik sebagai full-back modern. Namun Hungaria justru tampil tidak konsisten di fase grup kualifikasi.
Kerkez gagal membawa Hungaria lolos ke Piala Dunia, dan hal ini menjadi pukulan berat untuk kiprahnya yang sedang menanjak.
Tambahan paragraf relevan:
Hungaria sebenarnya memiliki generasi emas baru dengan pemain seperti Szoboszlai dan Kerkez. Namun kurangnya pengalaman di pertandingan-pertandingan besar membuat performa mereka naik turun. Jika Hungaria mampu menjaga konsistensi skuad muda ini, Piala Dunia berikutnya masih bisa menjadi kesempatan emas.
5. Carlos Baleba (Kamerun): Bakat Besar yang Terhenti di Play-off
Carlos Baleba menunjukkan kualitas luar biasa sebagai gelandang muda di Brighton. Ia kuat, visioner, dan punya potensi menjadi salah satu gelandang terbaik di Eropa. Namun Kamerun harus mengakhiri ambisi mereka setelah kalah 1-0 dari DR Kongo di babak playoff.
Baleba datang ke tim nasional dengan harapan besar, tetapi performa tim secara keseluruhan tidak cukup untuk menghadapi tekanan pertandingan penentuan.
Tambahan paragraf relevan:
Kamerun menghadapi tantangan besar dalam regenerasi pemain, terutama karena banyak bintang senior sudah berada di penghujung karier. Baleba mungkin akan menjadi tulang punggung tim di masa depan, tetapi pengalaman pahit ini menjadi pengingat bahwa talenta saja tidak cukup tanpa keseimbangan antarlini yang baik.
6. Konstantinos Karetsas (Yunani): “Messi Yunani” yang Harus Menunda Mimpi
Konstantinos Karetsas mendapat julukan “Messi Yunani” bukan tanpa alasan. Di usia 17 tahun, ia telah mencetak tiga gol dari delapan laga internasional dan menarik minat klub-klub besar Premier League. Namun perjalanan Yunani terhenti setelah kalah bersaing dengan Skotlandia dan Denmark.
Karetsas tampil berani dan penuh energi, tetapi pengalamannya yang masih minim membuatnya belum bisa memikul beban besar sebagai pembeda.
Tambahan paragraf relevan:
Yunani masih berjuang menemukan identitas permainan baru sejak era kejayaan 2004. Talenta-talenta muda seperti Karetsas memberi harapan baru, namun transisi generasi membutuhkan waktu. Tampil di Piala Dunia 2030 mungkin menjadi peluang realistis pertama bagi bintang muda tersebut.
7. Dominik Szoboszlai (Hungaria): Kapten yang Merasakan Sakit Mendalam
Dominik Szoboszlai menjadi pusat permainan Hungaria dan tampil impresif dari awal hingga akhir kualifikasi. Ia mencetak gol, menciptakan peluang, dan menjadi pemimpin lapangan yang solid. Namun hasil akhir tidak berpihak pada Hungaria.
Szoboszlai bahkan menulis pesan emosional di Instagram tentang rasa sakit yang mendalam karena gagal lolos.
Tambahan paragraf relevan:
Tanggung jawab besar sebagai kapten di usia muda membuat Szoboszlai terlihat sangat terpengaruh oleh kegagalan ini. Namun hal tersebut juga menunjukkan kedewasaannya sebagai pemimpin. Kegigihannya bisa menjadi modal besar bagi Hungaria untuk memperbaiki diri di kualifikasi selanjutnya.
8. Bryan Mbeumo (Kamerun): Penyerang Berbahaya yang Tidak Mendapat Panggung Dunia
Bryan Mbeumo tampil luar biasa bersama Manchester United musim ini. Ia mencetak gol-gol penting dan menjadi salah satu pemain menyerang paling efektif. Namun Kamerun kembali tersingkir dari play-off, menutup peluang Mbeumo untuk tampil di Piala Dunia.
Tambahan paragraf relevan:
Mbeumo sebenarnya dalam performa terbaik, dan ketidakhadirannya di Piala Dunia membuat banyak pengamat menilai turnamen ini kehilangan salah satu penyerang paling eksplosif musim ini. Jika Kamerun mampu memperkuat sistem pertahanan dan lini tengah, mereka bisa kembali ke trek.
9. Victor Osimhen (Nigeria): Mesin Gol Afrika yang Terhenti karena Cedera
Osimhen kembali menunjukkan ketajaman luar biasa di Liga Champions dengan enam gol, termasuk hat-trick melawan Ajax. Namun cedera hamstring datang di saat yang salah, membuatnya absen dalam pertandingan penentuan Nigeria melawan DR Kongo.
Nigeria akhirnya kalah dalam adu penalti dan gagal tampil di Piala Dunia untuk kedua kalinya secara beruntun.
Tambahan paragraf relevan:
Absennya Osimhen memperlihatkan betapa bergantungnya Nigeria pada dirinya sebagai sumber gol. Nigeria masih memiliki skuad kuat, tetapi mental bertanding mereka turun drastis sejak gagal lolos pada edisi sebelumnya. Regenerasi strategi menjadi langkah wajib jika ingin kembali ke turnamen dunia.
10. Khvicha Kvaratskhelia (Georgia): Bintang Sensasional yang Terjebak di Grup Berat
Khvicha Kvaratskhelia menjadi salah satu winger paling menghibur di sepak bola Eropa. Dribelnya mematikan, visinya tajam, dan ia menjadi pusat permainan Georgia. Namun berada satu grup dengan Spanyol dan Turki membuat peluang Georgia sangat kecil.
Meski tampil impresif di Euro sebelumnya, kualifikasi Piala Dunia menghadirkan tantangan berbeda. Kvaratskhelia kini harus menunggu empat tahun lagi untuk mencoba kembali mewujudkan mimpinya.
Tambahan paragraf relevan:
Georgia sebenarnya berkembang pesat dalam beberapa tahun terakhir, tetapi kualitas mereka belum cukup untuk bersaing dengan raksasa Eropa. Jika mereka mampu mempertahankan generasi ini, kesempatan tampil di Piala Dunia bisa terbuka lebih lebar pada edisi mendatang.
Kesimpulan: Pemain yang absen di Piala Dunia 2026
Piala Dunia selalu menjadi panggung impian setiap pemain. Namun sepak bola tidak hanya tentang kualitas individu—strategi, konsistensi, kerja sama tim, dan sedikit keberuntungan juga menentukan hasil akhir. Para pemain yang absen di Piala Dunia 2026 ini tetap menjadi bintang besar yang akan terus bersinar di klub masing-masing. Banyak dari mereka masih punya kesempatan kembali mengejar impian empat tahun mendatang.
Artikel ini menegaskan bahwa bahkan pemain terbaik pun bisa gagal mencapai puncak, tetapi kegagalan tidak menghapus kualitas, dedikasi, dan dampak besar mereka terhadap dunia sepak bola.











