Sebuah Deja Vu yang Menyakitkan

Bagi para penggemar Tim Nasional Italia, bulan November 2025 kembali membawa rasa takut yang akrab. Empat tahun setelah kegagalan lolos ke Qatar 2022, dan delapan tahun setelah Swedia mengakhiri mimpi Gli Azzurri ke Rusia 2018, Juara Eropa itu lagi-lagi terperosok ke dalam jurang play-off kualifikasi Piala Dunia.

Ini bukan sekadar kekalahan; ini adalah ancaman sejarah kelam: absen untuk ketiga kalinya berturut-turut dari panggung sepak bola terakbar.

💔 Kutukan Play-off: Luka yang Tak Kunjung Sembuh

Kegagalan Italia di kualifikasi kali ini terasa ironis. Setelah kegemilangan di Euro 2020, banyak yang memprediksi Gli Azzurri akan melenggang mulus. Namun, hasil imbang yang tidak perlu dan kekalahan di pertandingan krusial memaksa mereka menjadi runner-up di Grup I, di belakang Norwegia.

Tekanan bukan hanya datang dari hasil pertandingan, tetapi dari bayangan Aleksandar Trajkovski (Makedonia Utara 2022) dan Jakob Johansson (Swedia 2018) yang menjadi mimpi buruk bagi seluruh bangsa.

⚔️ Jalur Neraka: Tiga Langkah Menuju Amerika Utara

Undian babak play-off menempatkan Italia di Jalur A, yang berarti mereka hanya perlu memenangkan dua pertandingan sistem gugur (satu leg) untuk lolos ke Piala Dunia 2026.

Semifinal (18 Maret 2026): Italia vs Irlandia Utara

Italia harus terlebih dahulu melewati Irlandia Utara, tim yang terkenal dengan pertahanan ketat dan atmosfer kandang yang agresif di Belfast. Meskipun di atas kertas Italia unggul, dalam format satu leg, kejutan sangat mungkin terjadi.

Final (23 Maret 2026): Menghadapi Calon Juara

Jika menang di Semifinal, Italia akan menghadapi pemenang dari laga Wales vs Bosnia-Herzegovina.

  • Wales: Dipimpin oleh sosok berpengalaman seperti Gareth Bale (jika masih bermain) atau pemain muda seperti Brennan Johnson, Wales adalah tim yang mampu tampil inspiratif di bawah tekanan. Mereka pernah menyingkirkan Ukraina di play-off 2022.

  • Bosnia-Herzegovina: Tim Balkan ini dikenal memiliki bakat teknis yang tinggi, tetapi kurang konsisten. Mereka bisa menjadi lawan yang merepotkan jika Gli Azzurri meremehkan.

👔 Tekanan di Pundak Luciano Spalletti

Semua mata kini tertuju pada pelatih kepala Italia, Luciano Spalletti. Ia mengambil alih tim dengan tugas berat untuk meremajakan skuad dan mengembalikan mentalitas pemenang.

Masalah Taktis: Mencari Konsistensi

Spalletti dihadapkan pada masalah konsistensi di lini serang dan pertahanan. Sejak Euro 2020, Italia kesulitan menemukan striker murni yang tajam. Para pemain seperti Gianluca Scamacca dan Giacomo Raspadori belum sepenuhnya meyakinkan. Di tengah, ia harus memastikan kreator lapangan tengah, seperti Barella dan Tonali, dapat berfungsi maksimal di bawah tekanan.

📉 Konsekuensi Sejarah: Jika Italia Gagal

Jika Italia gagal, konsekuensinya akan sangat parah, melampaui sekadar hasil olahraga:

  1. Kemunduran Sepak Bola Nasional: Akan ada pertanyaan besar tentang sistem pembinaan pemain muda dan kebijakan federasi (FIGC).

  2. Dampak Ekonomi: Kehilangan pendapatan dari sponsor, hak siar, dan pariwisata yang terkait dengan partisipasi di Piala Dunia.

  3. Krisis Identitas: Sebagai empat kali juara dunia, kegagalan tiga kali berturut-turut akan merusak citra Gli Azzurri sebagai salah satu kekuatan utama di peta sepak bola global.

Saatnya Mematahkan Kutukan

Pada akhirnya, nasib Italia berada di tangan mereka sendiri. Babak play-off adalah ujian karakter, bukan hanya teknis. Dunia akan menyaksikan apakah generasi pemain ini mampu memanggul beban sejarah, mematahkan kutukan play-off yang menghantui, dan mengamankan tempat yang seharusnya bagi Gli Azzurri di Amerika Utara 2026.

Penulis : Sandra

By admin

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *